Menghadapi waktu.

#waktu,#bersahabat,#diri

Waktu selalu dikaitkan dengan uang, tak sedikit yang bilang begitu. Padahal, untuk bisa bersahabat dengan waktu, kamu hanya perlu memulai langkah kecil saja.

Entah mengapa saya jadi ingat kutipan Albert Einstein,

“Beri nilai dari usahanya jangan dari hasilnya. Baru kita bisa mengerti kehidupan.”

Dari kutipan ini kita tahu, bahwa tujuan hidup adalah berproses yang panjang, tidak ada hasil yang sesungguhnya dalam hidup. Karena hidup terus bergenerasi.

Ada pemuda yang bermimpi besar, namun gagal terus menerus. Karena putus asa, dia memutuskan untuk berhenti sejenak mengejar mimpi itu, dan bekerja di bawah suruhan orang lain (Perusahaan).

Apakah pemuda itu salah? Kenapa dia secepat itu mengambil keputusan untuk berhenti mengejar mimpinya?

Ada beberapa faktor yang mungkin anak muda ini tidak jelaskan. Di era modern seperti ini, punya mimpi seperti Pilot, Dokter, Direktur atau pekerja profesional lainnya, membutuhkan uang yang sangat besar. Mereka butuh bersekolah tinggi demi mewujudkannya. Apakah orang tua pemuda ini tidak sanggup membiayainya? Atau karena pemuda ini tahu bahwa orang tuanya tak sanggup membiayainya? Sehingga ia mencari pekerjaan untuk modal dirinya bersekolah ke fakultas yang ia inginkan? Kalian yang punya mimpi seperti ini pasti akan memahaminya.

Ingatlah untuk kalian yang sedang berjuang demi mimpi kalian.

“Hidup dimulai dari tengah, bukan dari bawah. Kamu hanya perlu memulainya. Pergi ke lautan yang paling dalam, atau kamu pergi ke gunung yang paling tinggi, atau kamu tetap berada di tengah dengan zonamu.”

Sesungguhnya kalian adalah dalang untuk menjalankan hidup yang rumit ini, terjunlah!! Maka, rumit menjadi tertantang, lalu belajarlah untuk menjadi lebih baik.

Pemuda itu adalah orang yang kuat, ia rela membungkus mimpinya untuk suatu perjuangan, ia tidak membuang mimpinya,karena pemuda itu tahu tidak ada yang instan dalam hidup. Jikalau ada, tidak benar untuk menjadi instan, karena mereka yang menggunakan jalan instan adalah penikmat. Tapi, mereka yang berjuang adalah pembuat nikmat.

Kamu hanya perlu memahami konsep hidup kamu sendiri, agar tidak terkecoh dengan opini saja.

William James pernah berkata,

“Di sudut-sudut pikiran kita yang gelap sebenarnya kita mengetahui apa yang harusnya kita lakukan,tetapi entah bagaimana kita tidak dapat memulainya.”

Seorang ilmuwan pun hanya bekerja saat ia menemukan suatu ide saja, tetapi dalam kehidupan sehari-harinya, ia cenderung lebih pendiam. Waktu terus berjalan, jika kamu terus diam, kamu hanya jadi penonton zaman.

Bergerak sedikit mungkin, meluangkan suatu kesibukan menjadi kegiatan yang baru terjadi dalam hidup kamu, seperti berkreasi atau membuat karya apapun.

Kamu punya hak untuk membuat kreatifitas apapun, walau tak banyak yang melihat, setidaknya kamu sudah meninggalkan karyamu dalam hidup.

Semoga bermanfaat.

Jangan pernah berhenti untuk membaca 🙂

Advertisements

Menghadapi diri sendiri (1)

Mengenali diri, berarti kamu sudah membentuk kedewasaan. Banyak sebagian orang yang kurang intropeksi untuk menjalani suatu kehidupan, semua

kritikan seharusnya menjadi bensin untuk membakar mereka yang mengecilkan niatmu. Tapi, tak sedikit yang membakar impiannya sendiri, karena tak kuat menahan kritikan yang terlalu banyak.

Melihat semut yang berjalan bertemu dan saling sapa, rasanya seperti iri. Namun, semut terlalu lemah. Mereka yang mengkritik jalanmu adalah mereka yang memutus jalan semut tersebut. Mereka senang melihatmu untuk berpencar secara pikiran kamu.

Saya punya banyak teman, mereka baik dengan saya. Tapi, untuk membangun kepercayaan diri, tetaplah dari diri sendiri. Saya selalu mendukung teman – teman saya untuk bergerak kemana saja dan mendoakan mereka untuk sukses kedepannya. Toh, yang menjalankan hidup mereka tetap mereka sendiri.

Banyak yang bilang,

“Kedewasaan bisa dilihat dari perilakunya.”

Banyak yang bilang,

“Kedewasaan bisa dilihat dari cara/pola pikirnya.”

Ini hanya soal mindset saja, kamu mau membentuk kedewasaan itu seperti apa. Yang paling penting, kamu harus bisa bersahabat dengan diri kamu sendiri.

“Jadilah orang yang ingin menjadi benar. Ketimbang orang yang ingin merasa benar.”

Sekitar 15 tahun yang lalu, saya belum bisa baca tulis. Orang tua saya selalu mengajari saya dari pagi ke sore, setiap hari selalu begitu. Tapi, karena saat itu belum ada kemaun dari diri saya untuk baca/tulis. Ya, hasilnya saya belum bisa baca tulis sampai kelas satu SD, dan akhirnya saya telat menyadarinya, dampaknya saya selalu diledekin oleh teman – teman kelas saya.

Kalau kalian pernah membaca kutipan tentang persahabatan, pasti kalian pernah membaca ini.

“Kunci dalam persahabatan adalah percaya satu sama lain.”

Begitu juga buat dirimu, kalau kamu masih ragu terhadap dirimu sendiri,artinya kamu belum bersahabat dengan dirimu.

. . .

Percaya terhadap teman itu sangatlah seru, mereka memberi saran kepada kamu, menasehati kamu. Namun, semakin banyak saran yang kamu terima, semakin bingung untuk kamu mulai bergerak.

“Menghormati teman adalah keharusan. Tapi, percaya terhadap dirimu adalah ratusan saran.”

Sesekali berbicara dengan dirimu sendiri, berdiskusi, menemukan setitik masalah menjadi cerita. Kamu akan tersenyum, dan lihatlah, kamu sedang disemangati oleh dirimu sendiri.

Tidak dapat disimpulkan darimana filosofi bersahabat dengan diri sendiri, banyak kutipan dari orang ternama berkata seperti itu. Jadi, jangan dipikirkan,namun coba pahami tentang itu. Anggapan bahwa judul koran yang kamu baca adalah isinya, namun ternyata itu hanyalah sebuah judul saja, yang sebenarnya kamu tidak tahu apa isinya.